Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aliran-Aliran dalam Filsafat Islam




Aliran-Aliran Filsafat Islam:

1. Paripatetik

Istilah paripatetik merujuk kepada istilah Aristoteles yang selalu berjalan mengelilingi muridnya. Beberapa filosof yang dikategorikan dalam aliran ini adalah Al-Kindi, Alfarabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan Nasruddin Thusi. Ciri khas aliran ini dari segi metodologis atau epistemologis adalah:

a. Penjelasan filosof paripatetik bersifat sangat diskursif (bahsi) yakni mengunakan logika formal yang didasarkan pada penalaran akal yang dikenal juga dengan sebutan silogisme.

b. Mengguunakan konsep ilmu hushuli (perolehan) yakni diketahui secara tidak langsung melalui perantara.

c. Sangat mengandalkan rasional, sehingga kurang memperhatikan intiutif.

d. Mempercayai Hylomorfisme, yaitu ajaran yang mengatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini terdiri atas dua unsur utama, yakni materi (hyle) dan bentuk (morfis). Bentuk-bentuk benda bersifat kategoris.

e. Adanya teori emanasi yang membedakan dengan aristotelianisme murni.

f. Dalam teori wujudnya, ibn sina mengatakan wujud adalah yang nyata/real.[1]

Berkaitan dengan masalah emanasi ini, awalnya Alfarabi kecewa atas buku metafisika Aristoteles yang tidak banyak membicarakan masalah ketuhanan yang merupakan tema pokok dalam Islam, begitu juga Ibn Sina merasa kecewa dengan hal itu. Kemudian Alfarabi menemukan teori emanasi Plotinus, pendiri aliran neo-platonik. Dan akhirnya Alfarabi dapat menghasilkan teori emanasi yang lebih canggih di banding Plotinus. Dan kemudian di susul pula dengan teori emansi Ibn Sina yang lebih cangggih dari teori emanasi Alfarabi.

Kemudian, berkaitan dengan teori hylomorphis Aristoteles, Ibn Sina mengemukakan bahwa “dunia secara keseluruhan ada bukan karena kebetulan, tetapi ia diberikan oleh tuhan, ia diperlukan dan keperluan ini diturunkan dari tuhan”. Inilah prinsip Ibn Sina tentang eksistensi. Dari sudut pandang metafisik, teori tersebut berupaya melengkapi analisis Aristoteles tentang suatu maujud menjadi dua elemen yang diperlukan, yaitu bentuk dan materi.

Ibn sina mengatakan bahwa bentuk dan materi itu hanya bergantung kepada tuhan (akal aktif) dan lebih jauh lagi bahwa eksistensi yang tersusun juga tidak hanya disebabkan oleh bentuk dan materi saja, tetapi harus terdapat “ sesuatu yang lain “ . akhirnya ia menjelaskan kepada kita bahwa “ segala sesuatu kecuali Allah yang Esa yang esensi-Nya adalah tunggal dan maujud, memperoleh eksistensinya dari sesuatu yang lain didalam dirinya sendiri, ia layak untuk mendapatkan ketidakadaan yang mutlak. Sekarang ia bukan materi sendiri tanpa bentuknya, atau bentuk sendiri tanpa materinya yang layak mendapatkan ketidakadaan itu, tetapi adalah semuanya.[2]

2. Illuminasi (Isyroqi)

Aliran ini didirikan oleh Suhrawardi Al-maqtul. Adapun metodologi yang digunakan adalah:

a. ia mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif / irfani
b. berkaitan dengan pengalaman mistis, maka illuminasi menggunakan konsep ilmu hudhuri, karena dalam pengertian mistis seperti itu objek penelitian telah hadir pada diri seseorang sehingga modus pengenalan seperti ini sering disebut ilmu hudhuri
c. Memiliki konsep Metafisika cahaya, Tuhan adalah cahaya diatas cahaya (nurul anwar) yang merupakan sumber dari segala cahaya.

d. Benda-benda tidak memiliki definisi kategoris sebagaimana yang dipercayai kelompok paripatetik, yang membedakan hanyalah intensitas cahaya yang dimikinya, semakin banyak cahaya semakin tinggi derajatnya contohnya, hewan dan manusia tidak bisa dibedakan secara kategoris melalui esensinya tetapi disebabkan kenyataan bahwa manusia memiliki cahaya lebih dibanding hewan. Jadi bentuk-bentuk benda lebih bersifat relatif (lebih atau kurang).

e. Bagi Suhrawardi essensilah yang real, bukan eksistensi

f. Teori emanasi iluminassionis lebih ekstensif dibanding kaum peripatetik, baik dari segi istilah, struktur, maupun jumlah akal maupun malaikat-malaikat yang muncul dalam bagian teori emanasi.[3]

Suhrawardi pernah mengklasifikasi pencari kebenaran kedalam tiga kelompok : pertama, mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman secara diskursif. Kedua, mereka yang memiliki kecakapan nalar diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistis yang cukup mendalam, ketiga mereka yang disamping memiliki pengalaman mistis yang mendalam dann otentik juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskursif.

3. Hikmah Muta’aliyah

Aliran ini diwakili oleh Mulla Sadra yang mana ia berhasil menistensiskan ketiga aliran filsafat sebelumnya, yakni paripatetik, iluminasi dan irfani. Adapun karakteristik filsafat hikmah ini adalah:

a. Mereka tidak hanya percaya pada akal diskursif tapi juga percaya pada pengalaman mistik

b. Membicarakan adanya kesatuan antara akal dan ma’qul, karena yang dipikirkan tidak mungkin secara rasional ada tanpa yang berpikir (Tidak mungkin ada ma’qul tanpa akal).

c. Memiliki konsep wahdatul wujud, jika Suhrawardi mengatakan yang utama (prinsipil) adalah essensi/mahiyyah, Mulla Sadra mengatakan yang utama adalah wujud/ eksistensi. Esensi hanyalah sebatas yang kita pahami/ konsep, sedangkan wujud sejati adalah eksistensi. sebelum kita meyakini bahwa sesuatu itu ada, kita harus meyakini terlebih dahulu bahwa ada itu sendiri adalah ada.

Dalam konsep wahdatul wujudnya, yang membedakan wujud yang satu dengan yang lain bukanlah kewujudan mereka tapi esensi-esensi mereka. Wujud tuhan dan wujud kerikil tidaklah berbeda dari sudut kewujudan tetapi berbeda dalam sudut derajat dan gradasi/tasykik.

Adanya penemuan teori “perubahan trans-substansial”, yakni perubahan bisa terjadi bukan hanya pada tingkat aksidental tetapi juga substansial.[4]

Jika selama ini kita percaya bahwa substansi hewan telah tetap tidak bisa berubah menjadi yang lain, ia mengakui bahwa substansi tidaklah begitu tetap ia dapat berubah secara signifikan. Ia juga mengatakan bahwa perubahan substansial itu terjadi karena bentuk-bentuk material yang selalu berubah-rubah. Sehingga mula sadra pun dikenal sebagi filosof proses.

sumber:
[1] Kartanegara, Mulyadi, 2002. Gerbang Kearifan Sebuah Pengantar Filsafat Islam. Jakarta:
[2] Kartanegara, Mulyadi, 2002. Gerbang Kearifan Sebuah Pengantar Filsafat Islam. Jakarta:
PT.LENTERA HATI (hlm.28)
[3] Kartanegara, Mulyadi, 2002. Gerbang Kearifan Sebuah Pengantar Filsafat Islam. Jakarta:
PT.LENTERA HATI (hlm.44-46)
[4] Kartanegara, Mulyadi, 2002. Gerbang Kearifan Sebuah Pengantar Filsafat Islam. Jakarta:
PT.LENTERA HATI (hlm.49-50)
-photo source: kmamesir.org